Pasaman Barat – Portal.ytvdigital||Kelangkaan BBM Pasaman Barat semakin parah menjelang akhir Ramadan. Warga mengaku kesulitan mendapatkan BBM bersubsidi, bahkan harus antre berjam-jam tanpa kepastian, sehingga memicu keluhan dan jeritan di tengah masyarakat.
Kelangkaan BBM Pasaman Barat Picu Antrean Panjang di SPBU
Kondisi antrean panjang terjadi di berbagai SPBU di Pasaman Barat…
Dalam beberapa hari terakhir, antrean panjang terlihat di sejumlah stasiun pengisian bahan bakar umum (SPBU). Namun ironisnya, meskipun masyarakat telah menunggu berjam-jam, ketersediaan BBM bersubsidi seperti solar dan pertalite tetap sangat terbatas, bahkan kerap habis sebelum semua warga mendapatkan bagian 19/03/2026
Kondisi ini mendorong masyarakat menyampaikan aspirasi melalui surat terbuka kepada Mahyeldi Ansharullah. Dalam surat tersebut, warga mengungkapkan kekecewaan dan keprihatinan mendalam atas situasi yang mereka alami.
“Dengan sangat berat hati di bulan yang suci ini kami sampaikan bahwa Pasaman Barat sedang tidak baik-baik saja. Rakyat yang benar-benar membutuhkan BBM bersubsidi justru tidak mendapatkan prioritas,” demikian kutipan isi surat yang beredar di tengah masyarakat.
Kelangkaan BBM ini dinilai telah mengubah suasana Ramadan yang seharusnya penuh kebahagiaan menjadi penuh tekanan. Banyak warga yang hendak melakukan perjalanan mudik untuk bersilaturahmi dengan keluarga harus menghadapi kendala serius akibat sulitnya mendapatkan BBM.
Sebagian masyarakat bahkan terpaksa mengurungkan niat untuk pulang kampung. Sementara yang tetap memaksakan diri harus merogoh kocek lebih dalam dengan membeli BBM non-subsidi yang harganya jauh lebih tinggi.
“Perjalanan yang seharusnya menggembirakan berubah menjadi penderitaan. Kami kelelahan secara fisik dan tertekan secara mental karena harus mencari BBM ke berbagai tempat,” ungkap seorang warga yang enggan disebutkan namanya.
Lebih lanjut, warga menilai bahwa distribusi BBM bersubsidi di daerah tersebut tidak berjalan sebagaimana mestinya. Mereka menduga adanya ketidaktepatan sasaran dalam penyaluran, sehingga masyarakat kecil yang seharusnya menjadi prioritas justru tidak mendapatkan haknya.
Dalam surat terbuka tersebut, masyarakat juga secara tegas meminta perhatian dan tindakan dari pemerintah daerah. Mereka berharap Gubernur Sumatera Barat dapat menggunakan kewenangan yang dimiliki untuk melakukan pengawasan dan evaluasi terhadap distribusi BBM di wilayah Pasaman Barat.
Nama Pertamina juga disebut dalam aspirasi tersebut. Warga mendesak agar perusahaan penyalur BBM bersubsidi itu diawasi secara ketat agar menjalankan tugasnya sesuai dengan ketentuan yang berlaku.
“Dengan otoritas yang bapak miliki, kami mohon agar dilakukan pengawasan ketat. Jika ditemukan pelanggaran, kami berharap ada tindakan tegas, bahkan jika perlu pencabutan izin atau pemberian sanksi berat,” tulis warga dalam surat tersebut.
Keresahan masyarakat semakin memuncak karena kelangkaan ini terjadi di penghujung Ramadan, saat kebutuhan BBM meningkat drastis seiring dengan mobilitas masyarakat yang tinggi. Warga khawatir kondisi ini akan terus berlanjut hingga Hari Raya Idulfitri, yang berpotensi memperparah situasi.
Selain berdampak pada perjalanan mudik, kelangkaan BBM juga memengaruhi aktivitas ekonomi masyarakat. Para pelaku usaha kecil, sopir angkutan, hingga petani mengaku kesulitan menjalankan aktivitas mereka karena keterbatasan bahan bakar.
Beberapa warga bahkan menyampaikan kekhawatiran bahwa lemahnya pengawasan telah membuat distribusi BBM bersubsidi menjadi tidak terkendali. Dalam pernyataan yang cukup emosional, mereka menyebut kondisi ini seolah menunjukkan bahwa hukum tidak berjalan sebagaimana mestinya.
“Sepertinya hukum tidak berlaku. Kami merasa tidak tahu lagi harus mengadu ke mana. Ini adalah jeritan hati rakyat,” tulis warga dalam bagian akhir surat tersebut.
Meskipun demikian, masyarakat menegaskan bahwa surat terbuka ini tidak memiliki muatan politik ataupun kepentingan tertentu. Aspirasi ini murni disampaikan sebagai bentuk kepedulian dan harapan agar pemerintah dapat segera turun tangan menyelesaikan permasalahan yang ada.
Masyarakat Pasaman Barat berharap pemerintah daerah, bersama instansi terkait, segera mengambil langkah konkret untuk mengatasi kelangkaan BBM bersubsidi. Pengawasan distribusi yang lebih ketat, transparansi penyaluran, serta penindakan terhadap pihak yang melanggar dinilai menjadi kunci utama dalam menyelesaikan persoalan ini.
Di tengah situasi yang sulit, harapan warga hanya satu: kehadiran pemerintah yang tegas dan berpihak kepada rakyat. Mereka ingin memastikan bahwa kebutuhan dasar seperti BBM bersubsidi dapat terpenuhi secara adil dan merata, terutama bagi mereka yang sangat bergantung pada bantuan tersebut.
Dengan kondisi yang semakin mendesak, masyarakat kini menanti langkah nyata dari pemerintah. Akankah keluhan ini segera mendapat respons, atau justru terus berlarut tanpa penyelesaian, menjadi pertanyaan besar yang menggantung di benak warga Pasaman Barat.(Rum@rtin)

